Selasa, 27 September 2016

Esensi Kebahagiaan

Jika pandangan saya terhadap kebahagiaan adalah pemenuhan keinginan, maka sampai kapanpun saya tidak akan pernah bahagia. Terkadang memang menyenangkan jika salah satu keinginan saya terwujud. Sah saja mewujudkan keinginan. Tetapi, apakah seluruh hidup saya hanya akan dihabiskan untuk memenuhi keinginan yang tiada batasnya itu? Bagaimana kalau kita tidak dapat mencapai pemenuhan akan keinginan kita jika pandangan akan kebahagiaan kita bersifat dangkal?  Tentunya rasa frustasi yang kita dapatkan.

Sadar atau tidak, tidak semua hal yang kita inginkan dapat terwujud. Adakalanya kita harus menerima kenyataan.  Kebahagiaan yang seperti itu adalah kebahagiaan yang sifatnya dangkal.

Perasaan cemas dan khawatir juga termasuk sumber penderitaan. Daripada sibuk memikirkan, mengkhawatirkan dan mencemaskan sesuatu yang belum pasti, lebih baik jalani saja kehidupan yang ada saat ini.

Bagiku kebahagiaan yang hakiki adalah ketenangan jiwa, yang memang saat ini sulit untuk diterapkan. Ketenangan jiwa juga bukanlah ketiadaan masalah, tetapi mengenai bagaimana kita merespon suatu masalah yang kita hadapi atau alami.

Dan juga bukan tugas orang lain untuk membuat kita bahagia. Adalah tugas diri sendiri untuk bahagia. Memang, terkadang setiap manusia memiliki kebutuhan akan rasa kasih sayang. Tetapi tak semuanya berjalan sesuai dengan keinginan. Ingat, sesuatu di dunia ini fana dan tidak abadi. Sesuatu yang telah menjadi milik kita saat ini belum tentu akan menjadi milik kita selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar